Tampilkan postingan dengan label #wisata # Religius #Banyuwangi # Makam #goa. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label #wisata # Religius #Banyuwangi # Makam #goa. Tampilkan semua postingan

Selasa, 17 Januari 2017

SEJARAH LAHIRNYA MBAH YAI ABDULLAH FAQIH



Leluhur dan Masa Kecil KH Abdullah Faqih

  1. KH. ABDULLAH FAQIH  DAN SILSILAH

A.1 KH abdullah Faqih  dari kerturunan pejuang Balambangan.

KH ABDULLAH FAQIH dilahirkan di dusun Pakis desa balak ( waktu Itu ) tepatnya pada Tahun 1878 M atau 1332 H dari pasangan KH Umar Mangunrono (R.Markidin) R. Markidin atau bisa di sebut KH Umar Mangun rono adalah anak dari sunan Murobah Banten dangan Ibu Raden Ayu Adawilah putri dari keturunan Raden Mas tholib atau (REMPEG JOGOPATI) yang adik dari Mas Alit dari selir mas bagus puri wiroguno, yang berada di dusun pakis hidup bersama rakyat yang tertindas oleh kekejaman VOC waktu itu,  Besarnya R MAS REMPEG JOGOPATI ini Beliau Banyak Belajar Islam dari Kiay Rupo.
R.SAYU ADAWILLAH yang nota bene adalah putri RM Rempeg Jogopati  yang pada waktu itu tahun 1771-1772 bersama dengan R SAYU WIWIT Anak Wong Agung Wilis berperang melawan VOC di bawah bendera laskar bayu, perang tersebut di sebut dengan perang puputan bayu.
Menurut Beberapa Sejarah menerangkan bahwa perang panjang rakyat belambangan di bawah kepemimpinan  RM Rempeg Jogopati dan R.SAYU WIWIT melawan VOC menghabiskan 8 ton emas, ini diakui oleh belanda bahwa perang yang paling berat adalah perang di belambangan.
          Pada tahun tahun setelah peperangan puputan bayu tersebut R. Sayu Adawillah mengalami sakit dan berobatlah pada Tabib yang kebetulan saat itu berada di wilayah belambangan yakni Sunan Murobah yang berasal dari banten. Dan akhirnya Raden  Sayu Adawillah menikah dengan Sunan Murobah dan di boyong untuk hidup di banten.
          Dari pernikahan dengan Sunan murobbah banten dan hidup di daerah batu quran banten Raden Sayu Adawillah Di karuniai 3 Orang Anak diantaranya
1.   RM MARTIDIN
2.   RM Markidin Atau (Kyai Hadji Umar Mangunrono)
3.   R.Sayu Martinah
Jadi RM Martidin ini merupakan putra dari pasangan Ki Sunan Murobah Banten dengan RM Sayu Adawillah. Dari sinilah jiwa kepemimpinan dan perjuangan RM MARKIDIN itu muncul dan akhirnya RM sayu Adawillah memerintahkan kepada RM Markidin dan RM martinah Untuk ke banyuwangi Menemui Saudara saudaranya yan berjuang memlawan VOC di daerah bayu. Dan Perjuangan Kemerdekaan melawan Penjajah di teruskan oleh RM Martidin. Beliau RM Martidin Di perintahkan untuk menjadi Lurah Pertama di desa BALAK oleh saudara Misanya yang Kebetulan menjadi bupati Banyuwangi waktu Itu RM pringgokusumo.
          RM Markidin atau Kiyai Umar akhirnya Menjadi lurah Pertama di Desa balak yang mempunyai Julukan Ki mangunrono. Yang artinya orang yang memangku wilayah. Dan nama RM Markidin berubah menjadi Kyai Hadji Umar Mangunrono.
          Kyai Hajdi Umar mangunrono yang pada waktu itu berusia 38 tahun malalui prkawinanya dengan anak tuan tanah atau putri dari sukarejo singojuruh atau adik dari Raden Rokso Sukorejo Singojuruh., ini KH umar  memiliki 7 orang anak di antaranya adalah KH Abdullah Faqih. KH abdullah Faqih memiliki nama Kecil yakni RM Mudasir.

A.2. Masa Kecil KH Abdullah Faqih.

Nama Kecil kyai hadji Abdullah Faqih adalah RM Mudasir. Sejak kecil RM mudasir merupakan seorang yang giat mengaji dan senang akan pengembaraan untuk mencari ilmu pengetahuan,kratif, dan penuh inisiatif. di dalam keseharianya RM Mudasir seorang yang tawadu’ dan memiliki Kecerdasaan. Di bawah bimbingan Mbah putri adik Dari raden Rokso itu maka KH Abdullah Faqih yang kala itu bernama RM Mudasir mengaji dan terus giat aktif di dalam pencarian ilmu.
          Pada tahun 1887 yang usia KH abdullah faqih pada waktu itu usia 9 tahun Sudah mengembara untuk mencari ilmu, karena di rumah beliau yakni Ki Umar Mangun rono yang jabatan pada waktu itu sebagai kepala Desa (mangun) sibuk untuk berjuang melawan penjajah belanda. Kyai umar mangun rono yang waktu itu bergabung dan berjuang dengan membentuk pasukan yang bernama laskar bayu.
          Kiyai Umar mangun rono yang kala itu menetap dan membabat alas pertama di daerah Balak kecamatan singojuruh ( waktu itu) di kenal sebagai orang yang memiliki kesaktian dan ilmu kanuragan yang mumpuni.
           Adapun anak anak dari Mbah Hadji Umar Mangun rono ( RM Markidin ) antara lain :
  1. H Rutinah
  2. Mbah Dahum
  3. Hadji Irsad
  4. KH Rofii
  5. RM Mudasir (KH Abdullah Faqih)
  6. H Abdurahman
  7. H Sarbini
Di besarkan di lingkungan keluarga yang berada dan pemangku daerah tidak lantas membuat RM mudasir terlena dengan kenyamanan dan kemapanan. Diantara saudara saudarnya KH abdullah Faqih terkenal sebagi anak yang Giat untuk mencari ilmu, dan karena kebesaraan Allah pada usia 9 tahun RM mudasir (KH ABDULLAH FAQIH) sudah di karuniai ilmu laduni. Dan sejak umur 9 tahun RM Mudasir sudah terbiasa untuk tirakat dan berpuasa, beliau sering malakukan puasa Senin kamis, puasa daud dan puasa hari putih yakni puasa di tanggal 13-14-15 di pertengahan Bulan.
Demikianlah allah memberikan hidayah kepada hambanya yang di kehendaki.

Kamis, 10 Desember 2015

RELIGIUS DI MAKAM KH ABDULLAH FAQIH CEMORO

  


BAGI sebagian warga Banyuwangi, terutama warga nahdliyin, nama KH. Abdullah Faqih atau lebih dikenal kiai Faqih Cemoro sudah tidak asing. Kiai karismatis itu termasuk ulama besar dan waliyullah. Kiai Faqih yang lahir pada tahun 1870 Masehi dan meninggal pada tahun 1953, dikenal bukan hanya penyebar Islam, tapi juga pejuang kemerdekaan yang gigih melawan penjajah Belanda.
Dengan membawa bendera hizbullah, memimpin sejumlah peperangan seperti perang Parangharjo, Kecamatan Songgon; perang Hisbullah Lemahbang, dan beberapa perang lain. Jejak kiai Faqih kini bisa dilihat di makamnya di Dusun Cemoro, Desa Balak, Kecamatan Songgon

Kompleks makam berada di utara masjid. Di sekitar makam masih berdiri bangunan sekolah mulai pendidikan anak usia dinia (PAUD), Raudlatul Atfal (TK), dan Madrasah Ibtidaiah Miftahul Huda. Bila dilihat sepintas, bangunan sekolah itu tampak seperti bangunan lama yang pernah digunakan untuk pondok pesantren.

“Dulu santrinya Mbah Kiai Faqih ini ribuan,” ujar Gus Umar Abdullah, 55, salah satu cucu KH. Abdullah Faqih bin Umar. Kiai Faqih ini santri urutan ke-22 dari Syaikhona Kholil Bangkalan. Saat belajar, satu angkatan dengan KH. Hasyim Asyari dan KH.Wahab Hasbullah, dua kiai besar asal Jombang yang dikenal sebagai pendiri NU.

Kiai yang juga satu angkatan adalah KH. Munawwir, pendiri pondok pesantren Al-Munawwir Krapyak, Jogjakarta; KH. Ma’shum, pendiri pondok pesantren Lasem, Rembang; dan KH. Syamsul Arifin, pendiri dan pengasuh Pondok Pesantren Salafiyah Syafi’iyah, Asembagus Situbondo.

Usai belajar dari maha guru Syaikhona Kholil, Bangkalan, Kiai Faqih diberi mandat menyebarkan Islam di daerah Banyuwangi. Dan pada tahun 1917 dia masuk Dusun Cemoro, Desa Balak. “Ketemu dengan bapak Haji Hambali, juragan tanah, Kiai Faqih diberi tanah dan dibuatkan pondok pesantren,” katanya.

Dalam perkembangannya, pesantren yang didirikan kiai Faqih itu pesat. Santri yang ada saat itu mencapai ribuan. Para santri itu tidak hanya dari daerah Banyuwangi, tapi juga banyak dari Jember, Bondowoso, hingga Banten. “Mbah Kiai (Kiai Faqih) ini keturunan Raden Umar Banten, jadi namanya tersohor hingga Banten,” ungkap Gus Umar.

Dalam perkawinannya dengan al marhumah Suryati, Kiai Faqih memiliki lima putra, yakni KH. Ahmad Muhtarom, KH. Sholeh Abdullah, Siti Maryam, Mohammad Idris, dan Salamah. “Saya cucu dari anak kedua Mbah Kiai,” terangnya. Gus Umar mengaku semasa kecil sering mendapat cerita tentang Kiai Faqih dari ayahnya, KH. Sholeh Abdullah.

Kawasan Cemoro pada tahun 1917 hingga 1970 merupakan pondok pesantren besar dan terkemuka di bumi Blambangan. Diantara santri Pesantren Cemoro adalah KH. Harun, Kelurahan Tukang Kayu, Banyuwangi; KH. AbdulManan, Mberasan, Desa Wringin Putih, Kecamatan Muncar; dan KH. Ahmad Kyusairi.

“Alumni banyak menjadi kiai besar,” cetusnya. Dari cerita yang disampaikan ayahnya, Gus Umar menyebut Kiai Faqih itu dikenal pejuang yang gigih menumpas penjajah di Bumi Blambangan. “Belanda mencari-cari keberadaan Mbah Kiai untuk dibunuh, tapi selalu gagal.

Padahal, Mbah Kiai ngajar ngaji di dalam masjid,” terangnya. Kiai Faqih wafat pada malam Jumat Kliwon tahun 1953 Masehi di usia 83 tahun. Kiai karismatis itu dimakamkan di kompleks pemakaman keluarga di dekat istrinya, almarhumah Suryati, yang meninggal lebih dulu di usia 60 tahun.

“Setiap 8 Syawal rutin dilaksanakan haul Mbah Kiai Abdullah Faqih di halaman Masjid Cemoro ini,” jelasnya. (radar)